ARTI PERSAHABATAN
Sebuah jalinan yang tak disengaja menjadikan
sesuatu yang abadi. Seperti sebuah kisah persahabatan 4 bocah perempuan berumur
6 tahun yaitu Andin, Dita, Reni dan Siska. Berawal dari tak disengaja Reni
mendengar percakapan antara Andin, Dita dan Siska yang ingin bermain bareng
setelah pulang sekolah. Tahun 1998 saat itu. “Siska, nanti aku ma Dita mau ke
rumah kamu ya…” kata Andin dengan semangat. “Boleh aja… Nanti jam berapa?”
tanya Siska. “Jam berapa ya…Dika nanti kita main ke rumah ke rumah Siska jam
berapa?” ucap Andin pada Dita yang sedang mengobrak-abrik isi tasnya. “Apa?
Ooo…mau ke rumah Siska? Aduh…aku gak jadi ke sana.” Tiba-tiba Dita membatalkan
perjanjian awal yang telah dibuatnya dengan Andin. “Ya…kamu tu gimana sih. Kamu
yang ngajak aku, eh, sekarang dibatalin aja.” Andin mengeluh. “Ya…maaf. Aku
ingat kalau sekarang aku harus ke dokter gigi ma mama.” Kata maaf Dita seperti
tak bersalah.
“Jadi gimana nih, jadi nggak, main ke rumahku?”
tanya Siska memastikan. “Kalau Dita gak jadi ke rumah kamu ya…aku juga batal.
Masak aku ke sana sendirian kan takut.” Kata Andin memberi alasan.
Dari jauh Reni menghampiri ketiga bocah kecil
yang sedang berbincang itu.
“Hai…” Kata Reni mengawali. Ketiga bocah itu
hanya tersenyum. Dita menyenggol Andin sambil berbisik. “Din…siapa itu?” tanya
Dita penasaran.
“Gak tahu tu. Tapi itukan teman sekelas kita yang
duduknya paling depan…”
“Oooo…”
“Namaku Renia…” sambil menyodorkan tangannya ke
arah Siska.
“Namaku Siska.” Siska membalas.
“Reni…”
“Andin”
“Reni…”
“Dita…kamu rumahnya mana?”
“Aku tetangga kamu. Mungkin kita nggak pernah
ketemu. Karena aku nggak pernah keluar rumah.” Kata Reni menjelaskan.
“Ooo…gitu.”
Dari percakapan dan perkenalan tersebut 4 bocah
perempuan itu bersahabat. Hampir setiap hari mereka bermain bersama.
Tahun ke-11 atau saat mereka berumur 17 tahun
persahabatan itu tetap terjalin erat. Sama seperti saat bocah dulu. Mereka main
bareng, shopping bareng, sampai gosip apapun yang baru didengar mereka. Namun
semua berubah saat salah satu dari mereka mempunyai teman cowok, yaitu Reni.
Ini pertama kali dia berpacaran. Ketiga temannya tahu tentang itu, karena
merekaselalu curhat bareng.
“Din, si Rian nembak aku…” kata Dita seneng.
“Bener Ta… Selamat ya…” Andin menyambut gembira.
Reni dan Siska juga mengucapkan selamat pada sahabatnya itu. Awalnya semua
berjalan baik-baik saja. Mereka tetap jalan bareng, curhat bareng, pokoknya
semua dikerjakan mereka bareng. Namun suatu saat.
“Dita…nanti jam 3 kita jalan yuk..?” ajak Siska.
“Heeem Ta. Aku pengen…” Reni men-suport.
“Iya…bener banget. Kan dah lama kita nggak hang
out bareng. Cuma di rumah aku…terus, kan bosen.” Andin menambah.
“Yak betul itu. Apalagi ini kan malam minggu
pasti rame.” Kata Reni tak sabar.
“Aduh…gimana ya…aku nggak bisa nanti si Rian mau
ngajak aku nonton. Kalian tahu kan, kita nggak pernah nonton.” Tolak Dita saat
itu.
“Ya…Ta masak hanya untuk hang out ama kita ja
kamu nggak bisa sih.” Kata Andin.
“Bukannya nggak mau, tapi aku kan sudah buat
janji sama dia.”
“Tapi kan kalian dah sering ketemuan kan?” kata
Siska kesal.
“Iya, Sis…tapi aku dah terlanjur janji ama dia.”
“Dit, masak kamu tega banget sih ama kita. Ya
udah terserah kamu aja sekarang.” Andin berkata dengan hati yang panas.
“Tapi kan…”
“Tapi apa Dit… kamu dah janji ama Rian??? Kamu
takut ama dia, tinggal batalin aja janji kamu sama dia, dan trus kita hang out
bareng kan enak.” Andin terus menyudut Dita.
“Bener apa yang dikatakan Andin. Kamu takut ama
dia?!!! Yang bener aja…” kata Siska sinis.
“Udah, udah, biarin aja Dita nonton ama Rian,
mereka kan nggak pernah nonton bareng.”
“Apa Ren, kamu belain dia. Yang jelas-jelas dah
ngepentingin kepentingan dia sendiri daripada kepentingan persahabatan kita.”
Andin tambah marah.
“Bukannya gitu, kita kan dah sahabatan 11 tahun.
Kita dah sering jalan bareng. Masak ngijinin teman kita mau nonton ama cowok
sekali aja nggak boleh.”
“Oh…gitu. Kamu sekarang ama Dita. Belain aja
terus.” Reni berkata dengan nada sedikit keras.
“Bukan gitu, beneran aku nggak sekongkol ama
Dita. Cuman ngijinin sekali aja nggak boleh.”
“Udah…Ren! Biarin aja aku diginiin.” Dita angkat
suara setelah diam dengan tetes air mata terus mengalir di pipi halusnya.
“Biarin aja Dit, kamu boleh nonton ama cowok
kamu. Kita nggak papa. Lain kali hang out bareng.” Kata Reni dengan suara
lembut sedikit keras.
“Iya! Itu menurut kamu, kita nggak!!” Andin tetap
marah.
“Bener apa kata Andin. Aku nggak ngijinin kamu
nonton ama cowok kamu tu si Rian.” Siska juga menambahi panasnya pertengkaran
itu.
“Tapi Sis, Dita kan dah janji ama Rian. Kan ngga
enak kalo dibatalin.” kata Reni.
“Ya udahlah…terserah kamu Dit! Kamu lebih
mentingin siapa? Kita apa cowok kamu!” Andin tetap pada pendiriannya.
“Ya…kalau kamu mentingin cowok kamu, bubar
persahabatan kita!!!” secepat kilat Andin mengucap kata itu.
“Rina!!!” jangan ngomong sembarangan!” Reni
menenangkan.
“Ya udahlah Ren. Jangan sok care sama kita. kamu
kan di pihak Dita. Kamu cuman temen Dita doang.” Siska langsung keluar dari
rumah Andin dan pulang.
Kemudian Andin langsung masuk kamar. Sementara
Reni dan Dita hanya terdiam di ruang tamu rumah Andin.
*****
Dua hari kemudian. Saat mereka berangkat sekolah.
Tak ada yang tertegur sapa. Siska berangkat dengan Andin, Dita berangkat
sendiri tidak dengan cowoknya. Sementara itu, Reni sudah berangkat lebih awal
dari ketiga temannya.
Dita masuk kelas yang kelasnya sama dengan Reni.
Dengan wajah kusut, mata bengkak. Dita duduk di sebelah Reni yang sedang
mengerjakan PR Matematikanya.
“Dit, kamu kenapa?” Reni menghentikan kegiatannya
saat melihat sahabat karibnya bermuka masam. “Nggak pap…papa kok.” dengan suara
sedikit bergetar hendak menangis Dita menjawab pertanyaan Reni.
“Dit, jujur aja ma aku kenapa?”
“Rian, mutusin aku.”
“Kok bisa?”
“Soalnya pas malam minggu kemarin aku batalin
janji kita nonton bareng.”
“Kok gitu. Aku kan dah bilang nggak papa.”
“Tapi aku nggak enak ama kalian. Kalian kan
sahabatku.”
“Dita…nggak papa. Trus gimana. Kamu bener dah
putus?”
“He’em…hehehehe.” Tangis Dita pecah setalah
beberapa menit lalu tertahan.
“Udah Dita. Udah jangan nangis dong. Aku ikut
sedih ni…”
Ketika Reni memeluk Dita yang sedang menangis.
Andin dan Siska lewat kelas mereka, dan melihat Dita sedang menangis. Sejurus
Andin iba melihat hal itu. Namun karena gengsi, diapun terus melanjutkan
langkahnya menuju kelas. Sesampainya di kelas, Andin dan Siska memperbincangkan
hal yang baru mereka lihat. “Rin tadi kamu lihat nggak Dita nangis?” Andin
mengawali.
“Lihat. Mang kenapa?? Biasa perutnya lagi sakit.”
“Nggak, tapi aku lihat Dita sedih banget.”
“Udah deh biarin aja.” kata Siska sinis.
“Aku kan jadi kasihan ma Dita.”
“Udahlah Ndin, nggak usah dipikirin.”
Percakapan mereka terhenti saat Bu Dewi masuk
kelas.
*****
Bel istirahat berbunyi. Reni menuju toilet.
Tiba-tiba di belakang Andin yang menarik tangan Siska berlari menuju Reni.
“Reni, tunggu.” Andin memanggil Reni.
“Andin, jangan tarik-tarik tangan aku gitu dong,
sakit…jangan cepet-cepet,” Siska mengeluh. Tia pun menoleh ke belakang. “Eh,
Andin ma Siska. Ada apa?” kata Reni dengan ramah.
“Ren, tadi aku lihat Dita nangis, kenapa??” tanya
Andin.
“Ya…aku kirain kamu narik-narik aku ada apa,
eh…ternyata mau tanya soal Dita doang?!” Siska kesal.
“Sis, diem dulu!!” perintah Andin. “Kenapa Dita
bisa nangis??”
“Oh…kalian mau tahu kenapa Dita nangis. Gini
loh…” Tia mau menjelaskan .
“Aku sih, nggak!!” kata Siska sinis.
“Siska, Dita tu sahabat kita.” Andin secara tidak
langsung menyuruh Siska diam.
“Tia, udah ceritain!!!”
“Gini loh, soal malem minggu kemarin. Dia tu
batalin janjinya sama Rian. Eh, Riannya malah ngamuk. Katanya dah dibeliin
tiket. Trus Dita nggak menghargai usaha Rian. Ya…malah Rian mutusin Dita tanpa
sebab yang jelas.” Reni menjelaskan panjang lebar.
“Aduh…kasihan banget si Dita.” Kata Andin
memelas.
“Udahlah Ndin, nggak usah lebay. Itu kan salah
dia sendiri ngapain ngepentingin cowoknya dari pada kita.” kata Siska judes.
“Sis, jangan gitu dong…dia sahabat kita. Susah seneng
kita bareng…” Reni menambahi. Bel masuk pun berbunyi, mengakhiri
percakapan mereka.
*****
Jam pulang berbunyi.
Reni pulang bareng Dita. Sampai gerbang Andin dan
Siska menunggu mereka.
“Reni, Dita tunggu…” Andin memanggil mereka. Reni
dan Dita menghentikan langkah.
“Ada apa Ndin?” tanya Reni pada Andin. Dita hanya
diam di sebelah Reni.
“Gini loh…aku mau minta maaf sama kamu Dit…” Dita
yang tadinya merenung menunduk tanpa semangat, menegakkan kepala dan mulai
tersenyum. Namun, Siska dengan wajah jutek diam tanpa ada kata maaf untuk Dita.
“Udah nggak papa… Aku seneng kita bisa bareng
lagi.” Dita senang.
“Siska, ngomong dong…” Andin menyenggol-nyenggol
badan Siska.
“Ya udah, aku juga minta maaf.”
Yang tadinya wajahnya jutek, Siska lama-kelamaan
wajahnya merah dan mengeluarkan air mata.
“Dita, maafin aku. Aku udah salah sama kamu.”
Siska meraih tubuh Dita dan memeluknya.
“Udah nggak papa…” Dita membalas.
Sejenak semua terdiam. Namun tanpa dikomando
mereka saling berpelukan dan persahabatan pun terjalin kembali.
Persahabatan tetaplah persahabatan walau ada
pengecoh satu namun tetap bertahan sampai kapanpun.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar